Zaman sekarang nggak bisa bawa motor? Apa kata orang cuy! Kalimat ini sering menghantui saya sejak memiliki anak-anak yang sudah memasuki usia sekolah.

Tapi begitulah adanya emak Mubarok ini memang tidak bisa naik motor. Bahkan membedakan belok kanan dan kiri saja suka bingung. Bagaimana jika naik motor nantinya akan banyak drama yang terjadi. Malah bikin repot orang sejalan raya. Wkkk..

Balik lagi ke naik motor. Sudah jadi salah satu kebutuhan di zaman era digital ini. Motor bukan lagi barang mewah. Hampir di semua rumah mulai dari skala sederhana hingga mewah. Motor adalah kebutuhan.

Lalu bagaimana saat emak tidak bisa bawa motor?

Pastinya galau ya mak. Apalagi saat kita diteror anak sendiri. Membandingkan dengan bunda-bunda, mama-mama dan perempuan lain di luar sana. Rasanya seperti langit serasa runtuh. Menghimpit kita ke dalam bumi. Mau marah tapi galau dengan kalimat anak sendiri.

Kalau saya yes Mak. Rasanya pingin nangis dan emosi tingkat tinggi. Galau banget. Galau segalaunya saat statement itu diucapkan si sulung tepat di telinga umminya.

Tapi kegalauan ini harus saya kendalikan dengan cara yang benar. Ini realita bahwa saya memang tidak bisa bawa motor. Tidak punya kemampuan seperti perempuan lain di luar sana. Ketidakmampuan ini bukan masalah malas belajar tapi lebih ke kesiapan mental.

Tidak Bisa Mengendalikan Rasa Takut Berlebih

Ketakutan yang berlebih pada suatu yang belum terjadi.

Payah ya emak Mubarok. Tapi mau apalagi saya memang belum bisa mengalahkan ketakutan saat di posisi pengendara di jalan raya.

motor

Tips Atasi Galau saat Tidak Bisa Bawa Motor

So, saat kejadian ini juga menimpa para emak di luar sana. Jangan galau lama-lama ya MaKita bisa lakukan beberapa tips berikut agar bisa move on saat galau tidak bisa bawa motor:

Tips Atasi Galau saat Emak Tidak Bisa Bawa Motor:

1. Berpikir Realistis

Kita harus realistis dan menerima kekurangan pada diri kita. Minder boleh tapi minderlah secara terhormat. Cieee. Bisa bawa motor memang sebuah prestasi bagi seorang perempuan. Tapi itu nilai tambah saja.

So jika tidak bisa bawa motor juga tidak mengurangi keistimewaan kita sebagai seorang ibu.

Peran ibu bukan terlihat pada kerennya dia membawa motor. Peran ibu bukan terlihat dari tangguhnya mereka membonceng semua anak-anak. Tapi peran ibu terlihat dari bagaimana dirinya bisa melakukan semua tugas rumah dengan baik. Bisa mengatur rumah, jago masak, bisa membersamai.mereka, mendisiplinkan anak-anak dan banyak lagi tugas luar biasa seorang bernama ibu. So berpikir realistis aja bunda. Jangan galau.

2. Move On

Jika kita sudah bisa menerima dan mengakui kekurangan yang kita miliki. Jangan galau berlama-lama. Banyak cucian dan jemuran menunggu. Yuk move on.

Tidak baik galau berlama-lama lho Mak. Selain buang waktu juga melelahkan jiwa mak. Mending kita diajak ngopi di Janji Jiwa sama suami kan.

Baca Juga: http://www.rumahjuwita.com

3. I Love My Self

Jika galau masih melanda maka nikmat saja Mak. Sampai kita bisa menyelami rasa di dalam diri. Rasa yang membuat kita makin mencintai diri sendiri. Kekurangan kita bukan aib yang harus ditutupi. Kekurangan kita bukan hal yang harus dipaksakan diwujudkan. Cintai diri sendiri dengan segala kekurangan yang kita miliki.

4. Welcome My Family

Kuatlah karena keluarga. Jangan galau hanya dengan statement anak kita. Jika memang menganggu pikiran. Maka mulai berdiskusi dengan keluarga. Utarakan segala rasa di dada agar lepas maksimal. Galau hilang berubah sayang.

Maka katakan pada diri sendiri. Welcome My Family! Inilah ibumu yang tidak bisa bawa tapi bisa cuci motor. Tidak bisa bawa tapi bisa beli motor. Fokuslah pada kelebihan Mak. Jangan galau ya Mak. Tetap semangat.

Teringat sama hadist Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Jadi selalu berpikir positif ya. Galau boleh tapi jangan kelamaan. Tidak bisa bawa motor bukan berarti menghambat tugas wajib kita sebagai seorang ibunya anak-anak.

[]

Share yuk!