Maaf aku tidak merayakan lagi. Saat banyak ucapan selamat ulang tahun, tahun baru, anniversary, Valentine Day dan ucapan lainnya aku hanya bisa terdiam tanpa kata.

Sejak mengenal Sunnah, banyak hal yang harus diubah dari pola pikir selama ini. Jika selama ini sering ikut-ikutan (taqlid tanpa dalil), sekarang harus bisa berbuat karena dalil (ittiba kepada Al-Qur’an dan As Sunnah).

Termasuk masalah perayaan yang sering aku lakukan dulu. Kalau diingat, selalu takut. Takut tidak diakui sebagai umat nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Karena jelas-jelas, Rasulullah tidak pernah melakukan perayaan-perayaan semacam itu.

Bagaimana nanti di Padang Masyar, Rasulullah dengan lantang mengatakan bahwa aku bukan umatnya. Seperti hadits Rasulullah dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269) 

Kenangan Demi Kenangan Merayakan Banyak Perayaan

Ma, pa masih ingat di benak ini saat engkau setiap tahun selalu merayakan ulang tahunku. Hampir setiap tahun dari umur 1,2,3 hingga aku sudah masuk usia 17 tahun engkau masih merayakannya.

Teman masih ingat di benak ini saat masa remaja. Kalian mengajakku bertukar kado karena saat itu Hari Kasih Sayang. Tanpa pikir panjang aku rela mengambil uang orang tuaku hanya sekedar membeli kado dan sebatang coklat untuk momen itu. (Astagfirullah).

Setiap Tahun Baru aku ingat, aku memaksakan diri (15-17 tahun usiaku) untuk ikut menyaksikan detik-detik pergantian tahun di alun-alun kota.

Memaksakan diri tanpa mahrom (keluarga yang haram dinikahi) keluar dan ikhtilat (campur baur perempuan laki-laki). Semua itu hanya menyaksikan pesta kembang api dan pergantian tahun Masehi. Astagfirullah.

Sebuah kebiasaan keliru yang tidak ada faedahnya.Bahkan setelah merayakan tahun baru aku harus rela menunggu waktu sampai pagi hari karena tidak ada kendaraan yang beroperasi pada malam hari. Hanya demi sebuah perayaan Tahun Baru.

Kalau diingat masih banyak lagi perayaan-perayaan lainnya yang pernah aku ikuti. Setiap tahunnya. Semua aku lakukan karena ikut-ikutan dan tanpa dalil yang jelas. Astagfirullah.

Mengenal Sunnah

Sejak mengenal sunnah pada tahun 2012, enam bulan sebelum aku menikah. Aku baru tahu dan memang sudah terlambat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak tahu sama sekali.

Di bulan-bulan pertama ada rasa bingung mempelajari ilmu-ilmu Sunnah tersebut. Ilmu yang memang datangnya dari Firman Allah Taala (Al-Qur’an) dan dijelaskan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam banyak haditsnya (Sunnah).sunnah

Hanya hidayah dari Allah pelan-pelan aku mulai membuka hati dan pikiran untuk menerima ajaran yang Haq ini. Setiap kali batin ini berontak, setiap kali pula aku ingat bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tauladan kita dan aku butuh syafaat Rasulullah.

Aku tidak ingin nanti pada saat di Padang Masyar, Rasulullah tidak mengakui diri ini bukan umatnya. Lalu aku umat siapa? Astagfirullah. Terlalu dalam untuk diselami.

Semoga perlahan kita semua bisa menerima semua ketentuan yang Allah tetapkan dan Allah jelaskan melalui Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam.

Kembali lagi, bukan karena diri ini suci. Masih jauh teman-teman. Tapi aku hanya berusaha mengamalkan apa yang Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya terdahulu amalkan. Termasuk masalah perayaan.

Muslim Hanya Merayakan 2 Hari Raya

Tahukah teman dalam Islam hanya ada dua Hari Besar yaitu Idul Fitri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Jelas dan tegas Rasulullah mengatakan bahwa hanya ada dua perayaan bagi umat muslim.

alasan_tidak_merayakannya_lagi

Desain Canva

Sungguh betapa agama kita sudah sempurna dan tidak perlu lagi kita mencari-cari perayaan lain. Sebagaimana Allah Taala berfirman dalam Alquran Surat Al Maidah ayat 3,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3).

Sebagai muslim tidak perlu banyak alasan mencari pembenaran perayaan-perayaan yang selama ini kita lakukan. Sebagai muslim kita wajib “Aku Dengar dan Aku Taat”.

Aku Dengar Aku Taat

Coba renungi firman Allah Taala dalam QS. An Nur ayat 48-52 berikut:

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ

Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ

Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.

أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ ۚ بَلْ أُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Keluarga ku dan teman-temanku, aku hanyalah seorang penuntut ilmu yang masih miskin ilmu. Hanya berusaha mengamalkan apa yang diperoleh.

Sungguh egoku ini sering menolak kebenaran yang datang. Kaget banyaknya kebiasaan dan tradisi lama yang tidak pernah diajarkan Rasulullah. Ini dilarang itu dilarang.

Tapi sungguh ini semua hanyalah berkat pertolongan Allah agar hati ini menerima dengan hati lapang agar meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak ada dalilnya dalam agama kita. Termasuk dengan sekelumit perayaan-perayaan ini.

Teman sekali lagi aku katakan aku tidak merayakan lagi segala perayaan yang dulu pernah aku lakukan. Aku tidak lagi ulang tahun lagi, valentine day, Tahun Baru dan perayaan lainnya.

Sebagai muslim aku hanya kenal dua perayaan saja dan semoga kita semua senantiasa diberikan Allah Taufik-Nya.

Semoga di Padang Masyar nanti, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bangga karena kita mengamalkan Sunnahnya dan mengakui kita sebagai Umatnya.

Telaga Al Kautsar

Tahukah bahwa syafaat Rasulullah mengantarkan kita bisa minum dari telaga Al Kautsar dan di hari kiamat kelak kita akan memperoleh kebaikan yang banyak dari Telaga ini. Ter dapat hadits dalam Shahih Muslim, dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat”, jawab beliau. Lalu beliau membaca,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ

Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebagian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut.  Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah amalan baru sesudahmu.” (HR. Muslim, no. 400).

Tentang Telaga Al Kautsar Bisa Baca Selengkapnya: https://rumaysho.com/13161-mereka-yang-terhalang-minum-dari-telaga-al-kautsar.html

Masya Allah, Masya Allah, Masya Allah. sungguh kini aku tidak merayakannya lagi. Semoga Allah tetapkan diri ini senantiasa dalam kebaikan yang banyak. []

Share yuk!