Resign dan harus jadi full time mom bagi saya adalah masa-masa yang sulit. Bagaimana tidak saya yang biasa bekerja, terima gaji dan tetap menjadi seorang ibu yang harus membersamai anak-anak, kini semuanya harus hilang begitu saja.

Sangat sulit bagi saya melalui masa-masa adaptasi pasca resign. Sebagai seorang workaholic saya akui saya selalu ingin memberikan yang terbaik dengan amanah pekerjaan yang saya terima.

Saya rela begadang demi menyelesaikan pekerjaan kantor. Bahkan jika ada pekerjaan dadakan yang mengharuskan saya berbagi dengan anak-anak, saya tetap akan memprioritaskan pekerjaan tersebut. Tapi pasca resign semua berubah.

Saya berubah dan menjadi orang yang kebingungan memulai hari. Inilah masa-masa tersulit bagi saya hingga akhirnya saya β€œSemeleh” (Mengambil istilah falsafah Jawa yang mulai digaungkan oleh Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis yang diwujudkan lewat peluncuran buku pada akhir tahun 2021 lalu).

Yup, Saya Semeleh. Saya mulai belajar menerima segala takdir yang Allah berikan kepada saya. Meski tertatih dan sulit dilalui tapi saya harus move on dari kondisi yang saya alami. Saya harus fokus ke depan bukan malah stag tanpa kepastian.

Setelah melalui 6 bulan pasca resign akhirnya saya mulai beradaptasi dengan kehidupan baru.

Alasan Resign dari Pekerjaan

Saya menyebutnya dengan resign terpaksa. Kantor sangat baik kepada saya. Sejak awal bergabung pada 2016-an saat saya sudah berstatus ibu dengan 2 anak, kantor hanya mewajibkan saya sekali sebulan ke kantor dan sisanya semua pekerjaan saya kerjakan di rumah.

Hingga tibalah kebijakan baru dari kantor yang mewajibkan ke kantor lebih sering. Sementara saya masih punya bayi dan pandemi. Perjalanan kantor yang sangat jauh sekitar 1 jam membuat saya sedikit kesulitan membawa 4 pasukan.

Saya juga tidak menemukan pola yang cocok untuk membawa anak-anak. Jika naik angkutan umum sangat lama dan melelahkan. Jika menggunakan transportasi online, sangat banyak uang yang harus saya keluarkan untuk datang ke kantor. Saya galau segalau-galaunya.

Pekerjaan saya selama ini sangat membantu keuangan rumah tangga kami yang naik turun pasca pandemi. Itulah salah satu ketakutan saya saat itu kalau memutuskan resign.

Apalagi gaji bekerja yang saya terima ini membuat saya bisa melakukan banyak hal tanpa membebankan suami. Tapi jika saya resign semua itu hilang begitu saja. Banyak sekali ketakutan yang menghantui saya.

Setelah melalui proses panjang dan berdiskusi dengan suami akhirnya dengan berat hati saya memutuskan resign dengan hati terpaksa. Panjang jika diceritakan secara detail. Intinya saya harus resign.

Bagi seorang Full Time Mom, Bekerja karena hobi jadi hal paling menggairahkan di sela mereka membersamai anak-anak. Jika pekerjaan (kesenangan/me time) itu hilang maka hilang juga gairah mereka.

Berikut healing yang saya lalui Pasca Resign hampir 7 bulan lamanya:

Healing Pasca Resign

Menerima Resign Ini Takdir Allah

Sebagai seorang muslim, saat frustasi melanda hal wajib yang harus dilakukan adalah berserah diri kepada Allah. Meski perih di dada tetap saja iman kita selalu menuntun kita untuk memasrahkan semua takdir kepada Allah.

Saya pribadi sangat lama melalui proses menerima takdir Allah bahwa saya tidak lagi bekerja. Resign Juni 2021 akhir setelah hampir 6 tahun bekerja, dan saya baru bisa menerima takdir ini dengan ikhlas akhir tahun 2021. 6 bulan yang sulit.

Tetapi setelah melalui semua rintangan dan kesulitan melawan pergolakan batin antara resign atau tidak. Akhirnya keputusan saya harus keluar

Ketakutan saya hanyalah masalah materi semata. Setelah instrospeksi diri saya menemukan hikmah bahwa ini waktunya saya membersamai anak-anak tanpa gangguan pekerjaan. Ya ini takdir Allah untuk hidup saya yang lebih baik.

Dukungan Keluarga Terutama Suami

Bagi saya dukungan suami membuat saya sedikit rileks dengan semua beban yang ada. Meski sulit untuk menerima bahwa saya tidak lagi bisa membantu dirinya. Dirinya malah menguatkan saya. Bahwa bekerja adalah tanggung jawab dirinya.

Sejatinya suami tidak pernah memaksakan saya bekerja tapi bagi saya bekerja jadi me time tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya diizinkan bekerja selama tidak melupakan pekerjaan utama di rumah.

Suami tahu sekali gejolak batin saya saat resign. Saya berubah jadi malas masak, tidak bergairah dan banyak lagi. Tapi dengan kesabarannya akhirnya saya bisa menerima segalanya. Sebenarnya bekerja bagi saya bukan urusan materi saja tapi juga sebuah kesenangan tersendiri. Saya sangat mencintai pekerjaan saya.

Belajar

Pastinya sedikit bingung memulai aktifitas darimana. Tapi saya memutuskan memulai dengan belajar. Belajar tentang hikmah diri. Belajar banyak hal lagi, bahwa bekerja bukan segalanya banyak hal lain. Yang kita kejar tidak hanya sekedar materi belaka.

Saya mulai sering mengikuti kajian-kajian online, sharing dengan teman dan belajar lagi fitrah saya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak saya.healing_pasca_resign

Self Love

Menerima semua kondisi diri, mencintai diri dengan cara yang saya sukai. Saya mulai mengevaluasi apa yang sangat saya sukai. Mulai memperbanyak me time ala saya seperti menulis, browsing-browsing apa saja, scrolling sosmed, membaca, bermain dengan anak bahkan tidur sepuasnya.

Saya mulai melupakan semua tentang beban kerja,Β  membebaskan diri ini menjadi orang dewasa yang tanpa beban bekerja. Sungguh kian hari saya semakin menikmati semua dan mulai mencintai diri sendiri yang apa adanya.

Tentukan Prioritas

Pergolakan batin selalu terjadi di akhir bulan. (Maklum tanggal tua). Tapi saya kembali bertanya apa prioritas saya dalam hidup. Saya bukan lagi seorang single tapi seorang istri dan ibu bagi anak-anak saya.

Saya mulai mendawamkan pada diri bahwa prioritas utama saat ini adalah keluarga. Kebahagiaan mereka berasal dari saya yang bahagia.

Move On

Move On pada segala kebaperan saya selama lebih dari 6 bulan. Baper yang merugikan diri sendiri. Tapi saya yakin kebaperan ini merupakan bagian dari proses
pendewasaan diri saya juga.

Akhirnya saya Move On dan Saya Bahagia dengan kondisi saya saat ini.

Selamat datang dunia baru dalam hidup saya. Dunia yang semoga membuat saya lebih bisa berproses sebagai seorang hamba dan sebagai seorang perempuan. Resign hanyalah segelintir kisah perjalanan hidup seseorang. []

Share yuk!